#!/usr/bin/env python3
# -*- coding: utf-8 -*-
"""BANK KONTEN GROWTH THREADS — uky & StudioSoft (batch 5-14 Okt 2026).

Gaya: percakapan, hook bervariasi (TIDAK ada pembuka berulang seperti
"Saya baca artikel ini soal ..." yang bikin reach turun). Bauran:
  Q  = pertanyaan / ajakan diskusi murni (paling banyak komentar)
  O  = opini / hot take
  T  = tips singkat / cerita pengalaman
  L  = artikel + link (porsi kecil)

Tiap entri: text (caption utama) + balas (1 reply anak, benang).
"""

UKY = [
# ── Q: pertanyaan ──────────────────────────────────────────────
{"tipe":"Q","text":"""Kalau klien minta hasil SEO dalam 2 minggu, kamu jawab apa?

Saya jujur bilang: yang bisa cepat itu iklan, bukan SEO. SEO itu menanam. Yang saya janjikan bukan waktu, tapi arah kerja yang jelas dan laporan yang bisa dibaca.

Klien yang paham ini biasanya jadi klien paling awet.

Menurut kamu, lebih baik jujur di awal atau janji manis dulu?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Pertanyaan yang paling sering saya dengar dari pemilik usaha: "Punya Instagram aja cukup, ya? Ngapain bikin website?"

Jawaban singkat saya: media sosial itu tempat menyapa, website itu rumah sendiri. Kalau akun kena limit atau algoritmanya berubah, kamu masih punya satu tempat yang tidak bisa diambil orang.

Kamu tim mana: cukup sosmed, atau sosmed plus website?"""},

{"tipe":"Q","text":"""AI sudah bisa nulis caption, bikin gambar, dan jawab chat pelanggan. Jadi kerjaan agensi digital nanti tinggal apa?

Menurut saya justru naik kelas: yang dibayar bukan lagi "bisa bikin konten", tapi "tahu konten mana yang layak dibuat". AI mempercepat tangan, bukan menggantikan otak.

Kamu paling sering pakai AI untuk kerjaan apa?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Saya sering ditanya: enaknya kerja sendiri atau punya tim?

Jawaban saya berubah tiap tahun. Awalnya kerja sendiri terasa bebas. Sekarang saya sadar, yang bikin bisnis tumbuh bukan jam kerja saya, tapi orang-orang yang bisa mengambil keputusan tanpa saya.

Kamu sekarang di tahap mana: solo, tim kecil, atau sudah lepas operasional?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Ada yang bilang konten bisnis itu cukup rajin posting. Saya tidak setuju.

Saya pernah posting tiap hari selama sebulan, hasilnya biasa. Bulan berikutnya saya kurangi jadi 3 kali seminggu, tapi tiap posting saya riset dulu apa yang orang benar-benar cari. Hasilnya jauh lebih baik.

Kamu lebih percaya volume atau riset?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Soal harga jasa, mana yang bikin kamu lebih tenang: harga murah dengan banyak klien, atau harga wajar dengan klien lebih sedikit tapi cocok?

Saya pernah ambil semua proyek yang datang. Yang terjadi: semua setengah jalan, dan saya capek sendiri. Sekarang saya lebih memilih sedikit klien yang serius.

Kamu sudah pernah mengalami ini?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Kalau ada usaha kecil di kotamu yang belum punya kehadiran online sama sekali, kamu sarankan mulai dari mana?

Saya biasanya mulai dari yang paling murah dan paling cepat menghasilkan: Google Business Profile, foto produk yang layak, lalu baru website.

Sarannya apa kalau kamu yang di posisi itu?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Pertanyaan jujur: berapa lama kamu bertahan di satu strategi konten sebelum ganti arah?

Saya lihat banyak bisnis gonta-ganti gaya tiap bulan, lalu bilang "digital marketing tidak berhasil". Padahal yang tidak pernah selesai itu uji cobanya, bukan strateginya.

Kamu tim sabar atau tim cepet ganti?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Menurut kamu, apa tanda paling jelas bahwa sebuah bisnis sudah siap sewa agensi digital?

Versi saya: kalau kamu sudah tahu produk mana yang paling dicari, dan kamu butuh lebih banyak orang menemukannya. Kalau belum tahu itu, agensi mana pun akan terasa mahal.

Tanda versi kamu apa?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Nilai jasa freelancer versus agensi — kamu pilih mana?

Saya pernah di dua sisi. Freelancer unggul di fleksibilitas. Agensi unggul di konsistensi: ada yang mengecek, ada laporan, ada yang bisa dihubungi kalau satu orang sibuk.

Kalau kamu punya budget terbatas, kamu pilih mana?"""},

# ── O: opini / hot take ────────────────────────────────────────
{"tipe":"O","text":"""Hot take: website jelek lebih merugikan daripada tidak punya website.

Kalau tidak punya, orang cuma tidak menemukan kamu. Kalau punya tapi lambat, berantakan, dan tidak bisa dibuka di HP, orang menemukan kamu — dan langsung menilai bisnismu seadanya.

Kesan pertama itu cuma satu kali. Jangan disia-siakan.

Setuju atau tidak?"""},

{"tipe":"O","text":"""Hal yang tidak saya percaya lagi: "bikin konten harus viral."

Viral itu bonus, bukan target. Yang bikin bisnis jalan itu orang yang ingat kamu saat butuh, bukan orang yang pernah ketawa sekali lihat kontenmu.

Saya lebih suka 100 orang yang paham apa yang saya kerjakan daripada 100 ribu yang cuma lewat.

Kamu setuju?"""},

{"tipe":"O","text":"""Sepuluh tahun kerja di digital, pelajaran paling mahal saya: proyek gagal bukan karena kurang pintar, tapi karena brief yang tidak selesai dibahas di awal.

Sekarang saya selalu tanya lebih banyak di pertemuan pertama, walau terasa kayak interogasi. Klien yang serius justru senang ditanya detail.

Pernah kena masalah yang sama?"""},

{"tipe":"O","text":"""Menurut saya, "murah" bukan strategi, tapi utang.

Harga murah bikin kamu dapat klien yang sensitif harga, kerjaan numpuk, dan waktu habis untuk hal yang tidak menambah kemampuan. Tiga bulan jalan, skill-nya tidak naik.

Yang saya pelajari: naikkan nilai dulu, harga mengikuti.

Kamu pernah salah pasang harga?"""},

{"tipe":"O","text":"""Ada satu kebiasaan yang bikin saya jauh lebih tenang: menuliskan apa yang TIDAK saya kerjakan.

Tidak ambil proyek yang butuh hasil instan. Tidak kerjakan hal yang bisa didelagasi. Tidak posting cuma karena takut kelihatan sepi.

Batas yang jelas itu bukan sok sibuk, itu cara menjaga mutu.

Apa yang kamu batasi?"""},

{"tipe":"O","text":"""AI tidak membuat konten jadi bagus. AI membuat konten jadi banyak.

Yang membedakan tetap sama seperti sebelum ada AI: siapa yang punya pengalaman nyata dan berani bilang hal yang tidak enak didengar. Itu tidak bisa digenerate.

Cara saya: AI untuk kecepatan, kepala saya untuk keputusan.

Kamu pakai AI untuk apa?"""},

{"tipe":"O","text":"""Banyak pemilik usaha takut "nanti komplain di sosmed". Saya lihat justru sebaliknya.

Komplain di kolom komentar itu masih murah: kamu bisa jawab dan ribuan orang melihat cara kamu menangani masalah. Yang mahal itu pelanggan yang kecewa diam-diam, lalu pergi tanpa bilang apa-apa.

Sudah pernah balas komplain yang berujung pelanggan makin percaya?"""},

# ── T: tips / cerita ──────────────────────────────────────────
{"tipe":"T","text":"""Cara cepat saya memutuskan konten apa yang layak dibuat, tanpa riset berhari-hari:

1. Buka kotak masuk dan tanya klien. Pertanyaan yang paling sering diulang itu bahan konten.
2. Lihat 3 kata kunci yang sudah membawa orang ke halaman kamu.
3. Tulis satu jawaban jujur untuk tiap pertanyaan itu.

Selesai. Konten yang menjawab pertanyaan nyata selalu terasa lebih hidup daripada konten yang lahir dari kalender editorial.

Kamu biasanya dapat ide dari mana?"""},

{"tipe":"T","text":"""Tiga hal yang saya rapikan dulu sebelum mengiklankan bisnis orang:

1. Halaman yang jadi tujuan iklan — apakah jelas dalam 5 detik ini jual apa?
2. Cara menghubungi — kalau sulit, iklan jadi sia-sia.
3. Bukti: testimoni, foto asli, hasil nyata.

Tanpa tiga ini, budget iklan cuma mempercepat orang menemukan halaman yang belum siap.

Dari tiga itu, mana yang paling sering kamu temukan belum beres?"""},

{"tipe":"T","text":"""Dulu saya pikir kerja sampai malam itu tanda serius. Sekarang saya pikir itu tanda kerja belum rapi.

Yang berubah: saya menyimpan daftar kerjaan berulang, lalu perlahan saya serahkan ke otomatisasi dan ke orang. Sisa waktunya saya pakai untuk hal yang cuma bisa saya kerjakan, seperti bicara dengan klien dan mengambil keputusan.

Kamu masih pegang kerjaan yang bisa diserahkan?"""},

{"tipe":"T","text":"""Pelanggan pertama saya dulu bayar Rp800 ribu untuk sebuah website. Saya kerjakan dua minggu, penuh rasa takut hasilnya jelek.

Belasan tahun kemudian saya sadar: yang membuat klien itu merekomendasikan saya bukan websitenya, tapi karena saya selalu membalas chat dan mengerjakan apa yang saya bilang akan dikerjakan.

Ternyata yang dijual itu bukan jasa, tapi kepercayaan.

Cerita klien pertama kamu bagaimana?"""},

{"tipe":"T","text":"""Cara saya mengukur konten yang berhasil bukan dari jumlah like:

- Ada yang save atau kirim ke orang lain? Itu tanda berguna.
- Ada yang bertanya lewat pesan? Itu tanda orang menimbang beli.
- Ada yang menyebut balik nama akun saya? Itu tanda diingat.

Like itu ramai. Tiga hal di atas itu penghasilan.

Kamu paling menjaga angka yang mana?"""},

{"tipe":"T","text":"""Hal kecil yang efeknya besar: sebelum menyewa agensi atau beli alat marketing baru, saya ukur dulu berapa banyak orang yang sudah mencari bisnis ini di Google.

Kalau permintaannya ada, tinggal rapi-rapi supaya mudah ditemukan. Kalau permintaannya belum ada, uangnya lebih baik dipakai untuk memperkenalkan produk, bukan mengoptimasi halaman yang tidak dicari orang.

Kamu sudah pernah cek volume pencarian produkmu?"""},

{"tipe":"T","text":"""Salah satu kebiasaan yang mengubah cara saya bekerja: setiap Senin, saya telusuri kembali semua konten yang saya tayangkan minggu lalu, lalu tandai satu saja yang paling banyak direspons.

Minggu itu jadi arah minggu berikutnya. Ternyata cukup satu, bukan sepuluh.

Kamu pernah membedah konten lamamu sendiri?"""},

{"tipe":"T","text":"""Saya pernah menolak proyek besar. Nilainya hampir sebulan penghasilan saya waktu itu.

Alasannya cuma satu: kliennya ingin hasil dalam tiga minggu, dan saya tahu angka itu tidak mungkin. Kalau saya ambil, yang rusak reputasi saya.

Bulan berikutnya, dari rekomendasi, saya dapat klien yang justru lebih besar dan sabar.

Pernah menolak sesuatu yang terlihat menggiurkan?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Pertanyaan untuk yang sudah jalan beberapa tahun: apa hal yang dulu kamu anggap penting, tapi sekarang malah kamu tinggalkan?

Versi saya: dulu saya kejar jumlah klien. Sekarang saya kejar jumlah klien yang mau diajak berpikir. Yang kedua jauh lebih sedikit, tapi tidak bikin saya bangun pagi dengan perut mual.

Punya kamu apa?"""},

{"tipe":"O","text":"""Cara saya menilai sebuah ide konten layak dibuat atau tidak: kalau saya sendiri tidak nyaman membacanya, orang lain juga tidak akan berhenti menggulir.

Nyaris semua tulisan yang berhenti di tengah jalan itu lahir dari kewajiban, bukan dari sesuatu yang saya benar-benar ingin sampaikan.

Kalau tidak ada yang ingin saya bilang, saya tidak memaksa tayang.

Setuju?"""},

{"tipe":"T","text":"""Hal yang paling sering saya lihat salah di bisnis kecil: keputusan digitalnya dibuat berdasarkan katalog penawaran vendor, bukan berdasarkan masalah yang sedang dialami.

Saya pernah di posisi itu. Beli alat yang tidak dipakai, langganan layanan yang tidak dibuka. Yang mahal bukan harganya, tapi waktu yang habis untuk belajar alat itu.

Sekarang urutannya dibalik: sebutkan masalahnya dulu dalam satu kalimat, baru cari alatnya.

Masalah satu kalimat kamu apa sekarang?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Satu pertanyaan yang membuat banyak salah paham: personal branding itu sebenarnya untuk siapa?

Bukan untuk orang lain yang menilai, tapi untuk diri sendiri. Kalau kita tidak bisa menjelaskan apa yang kita kerjakan dan untuk siapa, orang lain pasti tidak bisa juga.

Cara termudah mulai: jelaskan pekerjaanmu dalam satu kalimat tanpa istilah kantor.

Coba tuliskan versi kamu di komentar."""},

{"tipe":"O","text":"""Saya tidak percaya pada gagasan "harus punya portofolio besar dulu baru berani jalan".

Portofolio itu hasil, bukan syarat masuk. Yang membuat klien pertama saya percaya dulu cuma dua hal: saya menjawab cepat, dan saya mengerjakan apa yang saya bilang akan dikerjakan.

Selebihnya dipelajari sambil jalan. Kalau menunggu siap, tidak akan pernah mulai.

Apa yang dulu bikin kamu memberanikan diri mulai?"""},
]

SS = [
# ── Q ──────────────────────────────────────────────────────────
{"tipe":"Q","text":"""Pertanyaan yang sering saya terima dari pemilik klinik dan rumah sakit: pasien sebenarnya mencari apa di Google sebelum memilih?

Datanya cukup konsisten. Bukan nama layanan medis, tapi keluhan yang mereka rasakan dan area terdekat: "klinik kulit terdekat", "perawatan jerawat Sidoarjo", "biaya cek kulit".

Artinya halaman yang menang bukan halaman dengan istilah paling keren, tapi yang menjawab keluhan pakai bahasa pasien.

Di industri kamu, orang mencari pakai istilah apa?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Diskusi: kenapa banyak bisnis properti sudah pasang banyak iklan, tapi tetap kalah dari agen yang posting isinya sederhana?

Menurut saya karena satu hal. Yang sederhana itu biasanya spesifik: harga, luas, lokasi, dan cara menghubungi. Yang kalah itu biasanya katalog besar tanpa satu halaman yang benar-benar pas untuk satu jenis pencari.

Kalau kamu jual properti, kamu sudah punya halaman khusus untuk satu segmen pembeli?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Kalau budget digital marketing kamu cuma cukup untuk satu hal bulan ini, kamu pilih yang mana?

A. Optimasi halaman yang sudah ada
B. Riset kata kunci dan konten baru
C. Iklan berbayar
D. Perbaikan kecepatan website

Saya biasanya pilih A dulu. Alasannya: halaman yang sudah dikunjungi orang tapi belum menghasilkan itu kebocoran paling mahal, dan perbaikannya tidak perlu budget iklan baru.

Pilihan kamu?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Mit atau fakta: SEO bisa menghasilkan dalam seminggu?

Faktanya butuh waktu. Yang bisa cepat itu tampilan dan kecepatan website, atau iklan digital yang langsung tayang. Untuk peringkat organik, butuh waktu pengumpulan data dan kepercayaan.

Yang salah sudah sering terjadi: kontrak sebulan, hasil belum terlihat, lalu dinyatakan gagal. Ada yang pernah mengalami?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Menurut kamu, kenapa banyak UMKM yang websitenya sudah bagus tapi tetap sepi?

Penyebab yang paling sering saya temukan bukan di tampilan, tapi tiga hal ini: tidak ada satu pun halaman yang menyasar kata kunci pencarian nyata, website-nya lambat dibuka di HP, dan tidak ada cara jelas untuk menghubungi penjual.

Menurut pengalamanmu, penyebab paling sering apa?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Untuk bisnis retail, mana yang lebih dulu: rapiin katalog produk online atau bikin konten sosmed tiap hari?

Saya cenderung katalog dulu. Orang yang tertarik dari sosmed akan mencari nama produknya di Google. Kalau yang mereka temukan cuma akun kosong tanpa keterangan harga dan cara beli, minatnya hilang di situ.

Kamu pilih mana?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Pertanyaan untuk yang kerja di industri keuangan atau jasa profesional: boleh tidak konten marketing menyebut angka hasil?

Boleh, tapi hati-hati. Yang paling aman adalah menjelaskan proses dan cara kerja, bukan menjanjikan angka. Selain lebih etis, konten seperti itu juga tidak mudah dibantah.

Pengalaman kamu bagaimana?"""},

# ── O ──────────────────────────────────────────────────────────
{"tipe":"O","text":"""Opini yang mungkin tidak populer di kalangan agensi: SEO murah biasanya berubah jadi SEO panjang tanpa arah.

Yang bikin harga murah itu bukan efisiensi, tapi beberapa hal yang dilewati: riset kata kunci, perbaikan teknis, dan laporan yang bisa dibaca klien.

Murah dan rapi bisa bersamaan, tapi butuh batasan cakupan yang disepakati sejak awal. Bukan janji "semua bisa".

Kamu pernah kena pengalaman SEO murah?"""},

{"tipe":"O","text":"""AI search mengubah cara orang menemukan jawaban. Sekarang banyak pencarian selesai tanpa klik ke website mana pun.

Yang perlu diantisipasi bisnis: konten sekarang tidak cukup hanya mengejar peringkat, tapi harus jadi rujukan. Artinya struktur jelas, sumber disebut, dan jawaban tidak berputar-putar.

Kalau kontenmu diringkas AI, apakah kesimpulannya masih benar?

Bagaimana pendapatmu soal ini?"""},

{"tipe":"O","text":"""Website lambat itu bukan sekadar masalah teknis, itu masalah penjualan.

Hitung sederhananya: kalau satu dari tiga orang pergi sebelum halaman terbuka, kamu kehilangan sepertiga calon pelanggan tanpa pernah tahu mereka datang. Tidak ada notifikasi, tidak ada komplain.

Hal termurah yang naik paling cepat dari sebuah website biasanya bukan desain, tapi kecepatan.

Kamu pernah cek kecepatan websitemu?"""},

{"tipe":"O","text":"""Hal yang saya tidak sarankan ke klien: bikin konten untuk semua orang.

Konten yang bilang "untuk semua kalangan" biasanya berhenti di kalimat itu. Sebaliknya, konten yang menyebut satu situasi spesifik membuat orang merasa dilihat.

Contoh: "buat bengkel yang pelanggannya cuma dari mulut ke mulut" jauh lebih menggerakkan daripada "buat semua UMKM".

Setuju atau tidak?"""},

# ── T ──────────────────────────────────────────────────────────
{"tipe":"T","text":"""Daftar cek 5 menit untuk halaman yang belum menghasilkan:

1. Buka di HP pakai data seluler, bukan wifi kantor.
2. Baca lima detik pertama: jelas tidak ini jual apa.
3. Cari tombol menghubungi. Harus menggulir jauh? Itu masalah.
4. Cek apakah ada satu halaman khusus untuk pencarian paling ramai.
5. Nama, alamat, dan jam buka konsisten di semua tempat.

Kalau ada dua yang bermasalah, perbaiki itu dulu. Selebihnya belakangan.

Boleh dicoba minggu ini."""},

{"tipe":"T","text":"""Cara saya menjelaskan kata kunci ke pemilik bisnis, tanpa istilah rumit:

Bayangkan seorang pelanggan berdiri di depan pintu tokomu. Apa kalimat pertama yang dia ucapkan? Kalimat itulah kata kunci.

Bukan istilah yang kamu pakai di brosur. Bukan nama divisi di kantor. Kalimat orang biasa yang tidak tahu istilah industri.

Kalau kamu tuliskan lima kalimat itu sekarang, itu bahan konten untuk sebulan.

Kamu bisa tuliskan satu?"""},

{"tipe":"T","text":"""Satu hal yang sering dilewatkan bisnis jasa: halaman untuk setiap layanan, bukan satu halaman berisi semua layanan.

Alasannya sederhana. Orang mencari satu hal spesifik. Kalau semua layanan ditumpuk di satu halaman, halaman itu jadi relevan untuk semuanya, dan biasanya tidak kuat untuk apa pun.

Satu layanan, satu halaman, satu janji yang jelas. Itu pola paling membosankan dan paling sering berhasil.

Berapa layanan yang kamu punya dan berapa halamannya?"""},

{"tipe":"T","text":"""Tiga jenis konten yang hampir selalu menghasilkan pesan masuk untuk bisnis jasa:

1. Menjawab pertanyaan yang paling sering ditanyakan calon pelanggan.
2. Membandingkan dua pilihan yang sering membingungkan orang.
3. Menunjukkan proses kerja, bukan hanya hasil akhir.

Nomor tiga yang paling jarang dibuat orang, dan justru paling dipercaya.

Kamu sudah pernah bikin yang mana?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Untuk bisnis yang punya banyak cabang atau layanan: bagaimana kamu menjaga informasi di Google tetap konsisten?

Ini yang sering luput. Nama beda dikit di satu tempat, nomor lama masih terpasang di tempat lain, jam buka tidak diperbarui. Bagi calon pelanggan itu terlihat seperti bisnis yang tidak terurus.

Solusi paling murah: satu daftar induk berisi nama, alamat, telepon, jam buka. Semua kanal mengikuti daftar itu.

Siapa yang pegang daftar itu di timmu?"""},

{"tipe":"O","text":"""Kesalahan yang paling mahal di digital marketing bukan salah pilih kanal, tapi berhenti terlalu cepat.

Tiga bulan biasanya belum cukup untuk melihat pola. Yang sering terjadi: kanal dinyatakan gagal justru di bulan saat datanya mulai terbaca.

Kalau saya jadi pemilik bisnis, pertanyaan pertama saya bukan "berapa cepat hasilnya", tapi "apa yang akan kita pelajari di tiga bulan pertama".

Bagaimana menurut kamu?"""},

{"tipe":"T","text":"""Cara memilih kata kunci untuk bisnis lokal, tanpa alat berbayar:

Tulis sepuluh cara orang di kotamu menyebut layananmu. Campur bahasa sehari-hari, jangan pakai istilah brosur. Lalu tambahkan nama kota dan kecamatan.

Setelah itu buka Google dan ketik satu per satu. Yang muncul pesaing dengan halaman rapi, berarti permintaannya ada. Yang tidak muncul apa-apa, berarti peluangnya masih kosong.

Sepuluh cara itu biasanya cukup untuk sebulan konten.

Mau coba sekarang?"""},

{"tipe":"Q","text":"""Diskusi soal laporan: sebagai pemilik bisnis, kamu lebih butuh laporan yang tebal atau yang bisa dijelaskan dalam lima menit?

Saya memilih yang kedua. Laporan bulanan idealnya menjawab tiga hal: apa yang dikerjakan, apa yang berubah, dan apa langkah berikutnya. Sisanya data pendukung.

Kalau harus pilih satu angka saja untuk memutuskan lanjut atau tidak, kamu pilih angka apa?"""},

{"tipe":"T","text":"""Hal sederhana yang sering menaikkan hasil sebelum menyentuh strategi: pastikan nama, alamat, dan nomor telepon tertulis sama di website, profil Google, dan semua sosial media.

Kedengarannya terlalu remeh untuk berpengaruh. Tapi mesin pencari dan calon pelanggan sama-sama memakai konsistensi itu untuk memastikan ini bisnis yang sama dan masih aktif.

Luangkan 20 menit hari ini untuk memeriksa. Kalau ada yang berbeda, samakan.

Kamu berapa lama sejak terakhir memeriksa?"""},
]
